Opini yang Benar
Opini yang Benar dan Tepat Menurut #JohnMearsheimer: Amerika Serikat Bukan Pemenang.
Oleh ;
MYR Agung Sidayu
Yayasan Pendidikan Indonesia (YPI)
Special Consultative Status in ECOSOC
United Nations
Pendahuluan.
Dalam dunia hubungan internasional yang penuh ketidakpastian, pendapat akademis kadang lebih tajam daripada retorika politik. Profesor John J. Mearsheimer, salah satu pemikir realis terkemuka dari #UniversityofChicago, baru-baru ini menyampaikan analisis yang lugas dan berani: “Amerika Serikat bukan di kursi pengemudi. Iran yang berada di kursi pengemudi. Kita melakukan negosiasi ini karena Amerika yang menginginkannya… Kita menyadari bahwa kita sedang kalah dalam perang… kita butuh jalan keluar (off-ramp).”
Yayasan Pendidikan Indonesia (YPI) memandang pernyataan ini sebagai opini yang benar dan tepat secara akademis. Sebagai lembaga yang berkomitmen pada pendidikan berkualitas dan pemahaman mendalam tentang dinamika global, YPI melihat analisis Mearsheimer sebagai pelajaran penting bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya di tengah gejolak Timur Tengah yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dunia.
Amerika Serikat kalah perang.
Mengapa Amerika Serikat “Kalah” Menurut Realisme Mearsheimer?
Mearsheimer, yang dikenal dengan teori offensive realism-nya, menekankan bahwa kekuatan besar selalu bersaing untuk keamanan dan pengaruh. Dalam konflik AS-Israel melawan Iran yang meletus sejak akhir Februari 2026, Washington dan Tel Aviv awalnya yakin bisa mencapai kemenangan cepat melalui serangan udara, tekanan sanksi, dan upaya melemahkan kepemimpinan Iran. Namun, realitas di lapangan berkata lain.
Iran berhasil bertahan. Dengan kemampuan rudal dan drone yang tersebar, jaringan proxy regional, serta kontrol strategis atas Selat Hormuz — jalur vital yang mengangkut sekitar 20-30% minyak dunia — Iran mampu mengubah konflik menjadi perang atrisi (war of attrition). Gangguan di Selat Hormuz telah menyebabkan lonjakan harga energi global, memukul ekonomi Eropa, Asia, dan negara-negara berkembang termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak.
Negosiasi di Islamabad yang gagal, diikuti ancaman blokade oleh AS, justru menunjukkan keputusasaan Washington. Mearsheimer menegaskan bahwa AS yang lebih membutuhkan “off-ramp” karena biaya politik, ekonomi, dan strategis yang terus membengkak. Trump administration awalnya mengklaim memiliki “semua kartu”, tapi kenyataannya Iran memegang leverage signifikan: kemampuan mengganggu pasokan energi dunia dan ketahanan domestik yang lebih tinggi dari perkiraan.
Ketidaksesuaian Klaim Trump dengan Kenyataan di Islamabad.
Hasil perundingan kedua yang oleh Trump dianggapnya sebagai akan atau telah berhasil menekan Iran, khususnya terkait pengayaan uranium, ternyata tidak sesuai dengan ungkapan Menteri Luar Negeri dan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran. Trump berulang kali mengklaim bahwa Iran telah setuju menyerahkan stok uranium yang diperkaya kepada pihak AS atau pihak ketiga, serta menghentikan program nuklirnya. Ia bahkan menyatakan kemungkinan datang ke Islamabad untuk menandatangani kesepakatan jika deal tercapai.
Namun, kenyataan di lapangan selama perundingan di Islamabad (11–12 April 2026) menunjukkan hal berbeda.
Perundingan maraton selama 21 jam yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance berakhir tanpa kesepakatan. Iran secara tegas menolak tuntutan utama AS, termasuk penghentian total pengayaan uranium, pembongkaran fasilitas nuklir utama, dan penyerahan stok uranium yang diperkaya ke luar negeri.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan dengan jelas: “Uranium yang diperkaya Iran tidak akan dipindahkan ke mana pun,” dan penyerahan ke Amerika Serikat “tidak pernah dibahas dalam negosiasi.” Ia menegaskan bahwa pengayaan uranium merupakan hak kedaulatan Iran yang tidak akan diserahkan, sebagaimana Iran tidak akan menyerahkan kedaulatannya kepada pihak mana pun. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menekankan bahwa hak pengayaan untuk tujuan damai adalah hak yang tidak dapat dicabut, dan Iran hanya bersedia mempertimbangkan jeda terbatas, bukan pembekuan panjang seperti yang diminta AS.
Perundingan di Islamabad gagal karena perbedaan mendasar ini: AS menuntut “red lines” yang mencakup penghentian total pengayaan dan transfer uranium, sementara Iran melihatnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan dan haknya di bawah Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir. Klaim optimis Trump pasca-perundingan tampaknya lebih sebagai upaya narasi domestik daripada cerminan realitas diplomatik. Hal ini justru memperkuat argumen Mearsheimer bahwa AS sedang mencari jalan keluar karena menyadari posisinya yang tidak dominan alias KALAH PERANG
Kronologi Perundingan antara USA dan Iran.
Perundingan damai (atau negosiasi) antara Iran dan Amerika Serikat dalam konteks terkini dimulai dengan putaran pertama pada 12 April 2025 di Muscat, Oman. Pertemuan ini bersifat tidak langsung (indirect talks) dengan mediasi Oman, melibatkan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Mereka bertemu singkat secara langsung dan menyepakati kelanjutan pembicaraan.
Perkembangan di 2025 meliputi putaran kedua pada 19 April 2025 di Roma, Italia, serta beberapa putaran lanjutan di Oman hingga pertengahan Juni 2025 (termasuk level ahli). Namun, negosiasi tersebut tidak menghasilkan kesepakatan akhir dan diikuti oleh eskalasi konflik, termasuk serangan Israel-AS terhadap fasilitas Iran.
Setelah eskalasi bersenjata dan gencatan senjata sementara pada April 2026, perundingan damai baru dilakukan.
Putaran pertama dalam konteks gencatan senjata berlangsung pada 11–12 April 2026 di Islamabad, Pakistan, dengan mediasi Pakistan. Pertemuan maraton ini (sekitar 21 jam) melibatkan Wakil Presiden AS JD Vance dan delegasi Iran, tetapi gagal mencapai kesepakatan. Isu utama yang menjadi ganjalan adalah program nuklir Iran, pengayaan uranium, dan pembukaan Selat Hormuz.
Hingga pertengahan April 2026, putaran kedua belum terlaksana. Kedua pihak melalui mediator sedang membahas kemungkinan penyelenggaraan dalam waktu dekat, sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir. Presiden Trump sempat menyebut peluang perundingan lanjutan “dalam dua hari ke depan”, meski belum ada jadwal resmi. Situasi ini sangat dinamis dan bisa berubah cepat tergantung perkembangan di lapangan, termasuk isu blokade Selat Hormuz.
Pelajaran Akademis yang Harus Dipetik.
Apa yang disampaikan oleh John Mearsheimer ini sama dengan yang diungkapkan Prof. Jeffrey Sachs {guru saya dalam Sustainable Development} dalam setiap pernyataannya tentang peperangan ini. Bahkan, Prof. Sachs lebih ekstrim lagi dengan menyatakan bahwa ini bukan perang Amerika, melainkan Perang Israel yang didorong oleh kepentingan dan pengaruh tertentu di Washington.
Siapa pun yang sehat akalnya tidak akan membenarkan peperangan ilegal ini, yang telah menimbulkan risiko katastrofik bagi stabilitas global, termasuk ancaman gangguan pasokan energi dunia.
Sementara itu, para politisi Amerika — tentu saja dalam hati banyak politisi Republik — menyatakan dengan berbagai cara bahwa Trump telah salah memutuskan menyerang Iran. Mereka melihat keputusan tersebut sebagai kesalahan strategis besar yang kini memaksa AS mencari jalan keluar dengan biaya tinggi.
Opini Mearsheimer (dan Sachs) bukan anti-Amerika, melainkan pro-realitas. Ia mengkritik kebijakan luar negeri yang didasarkan pada ilusi “eskalasi dominance” tanpa mempertimbangkan batas-batas kekuatan. Dalam era multipolar yang semakin nyata — dengan peran China, Rusia, dan negara-negara Global South — asumsi bahwa satu kekuatan super bisa mendikte hasil di mana saja semakin usang.
Yayasan Pendidikan Indonesia percaya bahwa pendidikan yang baik harus menyajikan analisis kritis seperti ini.
Penutup.
Mahasiswa, pemimpin muda, dan pembuat kebijakan Indonesia perlu memahami bahwa “pemenang” dalam politik internasional sering kali ditentukan bukan oleh siapa yang lebih kuat di awal, melainkan siapa yang lebih bijak mengelola biaya dan mencari jalan keluar yang realistis.
John Mearsheimer mungkin tidak populer di kalangan elite Washington saat ini, tapi sejarah sering membuktikan bahwa suara realistis seperti miliknya adalah yang paling akurat. Amerika Serikat bukan pemenang dalam konflik ini — setidaknya bukan dalam arti yang mereka harapkan. Iran telah memaksa superpower dunia mencari negosiasi dari posisi yang kurang menguntungkan, sebagaimana terlihat jelas dari kesenjangan antara klaim Trump dan sikap tegas Iran di Islamabad.
Waktunya bagi kita semua, termasuk Indonesia, untuk belajar dari fakta ini: kekuatan sejati adalah yang mampu mengakui batasannya dan mencari perdamaian yang berkelanjutan, bukan ilusi kemenangan total yang mahal harganya.
Saya selalu melihat bahwa Trump telah menyadari kesalahan kebijakannya, sebagai pengganti kata “sadar kalah perang”, tetapi sangat di sayangkan terlalu banyak ungkapan – omon omon – yang di expos nya, sehingga terkesan sore tempe isuk kedele.
Kita harus waspada terhadap perkembangan ini, tanpa melibatkan diri dalam keperpihakan buta, agar kita tidak terlibat dalam perang kata yang pada akhirnya merugikan kebersamaan kita sebagai sebuah bangsa yang syarat dengan karakter damai. Seperti yang di ungkapkan oleh Presiden #prabowosubianto didepan Presiden #putin di Russia baru baru ini, walau banyak pihak merasa tidak puas dengan kebijakan luar negerinya, khususnya terkait dengan eskalasi yang menimbulkan kerugian global.
Tentu kita bisa saja tidak puas dengan kebijakan Presiden Prabowo, tetapi rasa hormat kepada pemimpin negara harus tetap kita junjung tinggi sebagai bangsa yang memiliki PANCASILA, last but not least “ peace is much better than War “.
