Diplomasi Bijak di Tengah Badai
Diplomasi Bijak di Tengah Badai: Pelajaran Berharga dari Menteri Luar Negeri Oman untuk Masa Depan Timur Tengah.
Oleh
Yayasan Pendidikan Indonesia
Special consultative status in ECOSOC
United Nations
Di tengah gejolak konflik yang terus mengguncang Timur Tengah, suara diplomasi yang tenang namun tegas sering kali menjadi harapan terbaik bagi perdamaian. Salah satu suara yang paling konsisten dan dihormati adalah Yang Mulia Sayyid Badr Albusaidi, Menteri Luar Negeri Kesultanan Oman. Pernyataannya yang insightful dan penuh kebijaksanaan patut didengarkan berulang kali serta dipahami secara mendalam, karena mencerminkan masa depan yang sangat dibutuhkan oleh kawasan tersebut.
Oman yang dipimpin oleh Sultan Haitham bin Tariq Al Said telah lama dikenal sebagai jembatan perdamaian di wilayah yang penuh ketegangan. Negara ini tidak memihak secara berlebihan, melainkan aktif memfasilitasi dialog antarpihak yang bertikai. Baru-baru ini, Oman berhasil menjadi tuan rumah dan mediator perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran, dengan kemajuan nyata dalam isu nuklir, transparansi, dan upaya mencapai kesepakatan yang adil.
Menteri Albusaidi berulang kali menekankan pentingnya gencatan senjata segera dan kelanjutan perundingan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan diplomasi memang mungkin menuntut “pengorbanan yang menyakitkan” dari semua pihak, tetapi pengorbanan itu tidak sebanding dengan penderitaan yang ditimbulkan oleh kegagalan dan perang yang berkepanjangan. “Sukses mungkin memerlukan konsesi yang menyakitkan dari semua orang, tetapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit akibat kegagalan dan perang,” ujarnya dalam salah satu pernyataan terbaru.
Beliau juga secara terbuka menyatakan bahwa pintu diplomasi tetap terbuka meskipun terjadi eskalasi militer. Albusaidi menyoroti bahwa serangan militer yang terjadi justru mengganggu proses perundingan yang sudah mendekati kesepakatan pada beberapa kesempatan. Menurutnya, perang bukanlah pilihan yang bijak, karena tidak ada skenario realistis di mana tujuan pihak-pihak yang terlibat dapat tercapai sepenuhnya melalui kekuatan senjata.
Yang menarik, Menteri Luar Negeri Oman secara tegas menekankan kepada semua pemimpin negara Arab bahwa penyebab utama dari semua yang terjadi di kawasan adalah Israel, bukan Iran — yang selama ini kerap dikucilkan oleh sebagian pihak. Albusaidi menyatakan bahwa Israel merupakan sumber utama ketidakamanan di wilayah tersebut, sementara akar masalah sebenarnya adalah pendudukan Israel atas tanah Palestina yang memicu berbagai gerakan perlawanan. Ia mendorong negara-negara Arab untuk tidak mengikuti agenda isolasi terhadap Iran, melainkan membangun kerangka keamanan regional yang inklusif dengan melibatkan Iran, Irak, dan Yaman.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Oman selama ini bersikap lebih bijak dibandingkan dengan banyak negara Arab lainnya. Sementara beberapa negara cenderung mengikuti narasi konfrontasi atau normalisasi tanpa menyelesaikan akar masalah, Oman konsisten menjaga keseimbangan, menolak normalisasi dengan Israel dalam kondisi saat ini, dan terus mendorong solusi dua negara untuk Palestina-Israel sebagai kunci stabilitas jangka panjang.
Pendekatan Oman yang dipimpin Albusaidi bersifat pragmatis dan berbasis kepentingan bersama. Ia mendorong langkah-langkah membangun kepercayaan, kerangka regional yang inklusif, serta transparansi energi nuklir yang terkait dengan masa depan pasca-minyak bumi. Dari sudut pandang netral, pernyataan Menteri Albusaidi mencerminkan diplomasi yang matang: mengakui realitas sulit, menghindari konfrontasi ideologis semata, dan mengutamakan stabilitas ekonomi serta keamanan maritim yang bermanfaat bagi semua negara di Teluk.
Bagi Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip bebas-aktif dan perdamaian dunia, pesan dari Oman ini sangat relevan. Sebagai bangsa yang sedang membangun, kita dapat belajar bahwa kekuatan sejati bukan hanya pada kekuatan militer, melainkan pada kemampuan membangun dialog, menjembatani perbedaan, dan menciptakan masa depan bersama.
Yayasan Pendidikan Indonesia meyakini bahwa pendidikan bukan hanya tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang menumbuhkan pemahaman global, toleransi, dan semangat perdamaian. Pernyataan bijak Menteri Luar Negeri Oman mengingatkan kita semua bahwa masa depan kawasan yang lebih aman dan sejahtera hanya dapat diraih melalui diplomasi yang sabar, inklusif, dan berorientasi pada kepentingan umat manusia.
Marilah kita dengarkan dan pahami lebih dalam suara-suara seperti ini. Karena di tengah badai konflik, justru kebijaksanaan dan kesabaran yang menjadi kompas menuju pelabuhan perdamaian abadi.
