Mengapa Umat Islam Tertinggal
Mengapa Umat Islam Tertinggal dan Terbelakang, Sementara Bangsa Lain Maju Pesat?
Oleh
Yayasan Pendidikan Indonesia
Special consultative status in ECOSOC
United Nations
Pertanyaan tajam yang dilontarkan Syakib Arslan hampir satu abad lalu masih menggema hingga hari ini: “Mengapa umat Islam tertinggal dan terbelakang, sementara bangsa lain maju pesat?”.
Bukan sekadar pertanyaan akademis. Ini adalah jeritan hati seorang pemikir yang melihat umatnya terpuruk dalam kemiskinan, kebodohan, dan perpecahan, sementara Eropa dan Jepang melesat meninggalkan kita. Hari ini, di tahun 2026, pertanyaan itu bukan lagi sejarah. Ia menjadi kenyataan pahit yang kita saksikan secara langsung di layar televisi dan media sosial.
Lihatlah agresi brutal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Negara yang selama ini berdiri tegar membela marwah Islam dan kedaulatan umat Muslim kini diserang dari segala penjuru. Rudal, sanksi ekonomi, propaganda hitam, dan ancaman perang terbuka menghadang Teheran. Iran tidak hanya mempertahankan wilayahnya — ia memperjuangkan dignity Islam di panggung dunia. Ia membuktikan bahwa umat Muslim masih mampu berdiri gagah meski dikeroyok dua kekuatan terbesar di dunia.
Namun, di mana suara umat Islam yang lain?
Di mana para pemimpin negeri-negeri Muslim yang mengaku “pembela umat”?
Yang kita lihat justru ketidakpatutan yang memalukan.
Alih-alih bersatu dalam satu barisan, sebagian pemimpin Islam memilih diam, bahkan ada yang diam-diam mendukung atau setidaknya tidak berani mengecam agresi tersebut. Mereka sibuk dengan urusan dalam negeri, foto-foto di forum internasional, dan perjanjian dagang dengan Barat, sementara saudara mereka di Iran sedang berjuang sendirian. Persatuan umat yang sering mereka pidatokan di mimbar-mimbar hanya menjadi slogan kosong ketika diuji dalam kenyataan.
Inilah akar penyebab utama mengapa umat Islam masih tertinggal:
1. Pemimpin yang terpecah belah�Bukan Barat yang memecah belah kita — kita sendiri yang membiarkannya. Konferensi Islam, pertemuan OKI, dan forum-forum “solidaritas” hanya menghasilkan resolusi tanpa tindakan. Ketika Iran berjuang, banyak pemimpin memilih “netralitas” yang sesungguhnya adalah pengkhianatan terhadap semangat persatuan.
2. Hilangnya semangat jihad persatuan�Syakib Arslan pernah menulis bahwa kemunduran umat dimulai ketika pemimpinnya lebih mencintai kursi daripada kehormatan agama. Hari ini, kita menyaksikan hal yang sama. Ketakutan kehilangan dukungan Amerika membuat sebagian pemimpin rela mengorbankan prinsip. Mereka lupa bahwa kekuatan Islam bukan terletak pada senjata, melainkan pada persatuan hati.
3. Generasi muda yang kehilangan teladan�Anak-anak muda Muslim melihat pemimpin mereka diam saja ketika saudara mereka dibantai. Akibatnya, muncul sikap apatis: “Untuk apa bersatu jika pemimpinnya sendiri tidak peduli?” Inilah racun yang membuat umat semakin terbelakang.
Iran hari ini bukan hanya sebuah negara. Ia adalah simbol perlawanan. Ia membuktikan bahwa dengan tekad dan keteguhan, umat Islam masih mampu melawan hegemoni global. Tapi perjuangan itu akan sia-sia jika tidak disertai gelombang persatuan dari seluruh dunia Islam.
Wahai para pemimpin umat!
Ini saatnya berhenti menjadi penonton.
Ini saatnya meninggalkan sikap pengecut yang dibungkus kata “diplomasi”.
Persatuan bukanlah pilihan — ia adalah kewajiban. Jika tidak, pertanyaan Syakib Arslan akan terus menggantung sebagai kutukan: mengapa umat ini selalu tertinggal?.
Yayasan Pendidikan Indonesia mengajak seluruh umat untuk bangkit. Bukan dengan pedang, melainkan dengan hati yang bersatu. Karena hanya dengan persatuan yang tulus, umat Islam bukan saja akan bangkit — tapi akan memimpin peradaban dunia sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para pendahulu kita.
Waktunya sekarang.
Atau kita biarkan pertanyaan Syakib Arslan menjadi epitaf bagi umat yang pernah berjaya ini?
