Strategi Adu Domba Trump yang Gagal

#UnitedNations

#KamalaHarris

#russia

#China

#uninindonesia

Strategi Adu Domba Trump yang Gagal Menggoyahkan Iran: Bahaya Besar Mengintai Negara-negara Teluk dan Israel

Oleh

Yayasan Pendidikan Indonesia

Special consultative status in ECOSOC

United Nations.

Pendahuluan.

Dalam dinamika geopolitik Timur Tengah yang semakin memanas, Presiden Donald Trump kembali menunjukkan pola yang konsisten: ucapannya selalu berbeda jauh dengan realitas di lapangan. Awalnya, Trump dengan percaya diri menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran bisa diselesaikan dalam waktu sangat singkat—bahkan ada pernyataan yang menyebut “dalam beberapa hari, bukan minggu”. Prediksi resmi yang lebih sering disebut adalah 4 hingga 6 minggu, atau paling lama “4 minggu atau kurang”. Namun, kenyataannya? Konflik ini telah berlangsung lebih dari 8 minggu, dan Trump pun terpaksa mengakui dengan nada santai:

“ Ya, saya memang berharap begitu. Tapi saya juga mengambil istirahat sebentar, dan saya beri mereka (Iran) istirahat juga.”

Ungkapan “istirahat” ini sebenarnya mencerminkan strategi klasik adu domba (divide and conquer – divide et impera )yang licik. Seperti yang digambarkan dalam ungkapan pengguna Twitter dari Salah satu negara teluk, ditujukan kepada Trump:

“ Ketika urusan saling bertabrakan, aku pisahkan mereka agar bisa menguasai semuanya. Aku tawar-menawar dengan satu pihak sambil menyibukkan yang lain, hingga memaksakan perjanjian sesuai keinginanku. Demikianlah kemenangan diraih melalui tipu daya dan kecerdikan.”

Trump berharap dengan memberi jeda, ia bisa memanfaatkan perpecahan internal Iran, melemahkan rezim, dan memaksa “deal abadi” yang sangat menguntungkan Amerika. Namun, strategi adu domba yang sering berhasil bagi Amerika Serikat ini , ternyata tidak mudah—bahkan hampir mustahil—dilakukan dengan tingkat terhadap Iran. Iran, meski di bawah tekanan berat, menunjukkan ketangguhan yang luar biasa.

Realitas yang Berbeda dari Retorika Trump.

Fakta di lapangan sungguh ironis. Meskipun Trump berulang kali mengklaim Iran telah “decimated”, “dihancurkan”, atau “dibawa kembali ke zaman batu”, penilaian intelijen bahkan dari Pentagon sendiri menunjukkan bahwa Iran tidak semakin lemah. Sebaliknya, Iran justru semakin kokoh dan tangguh dari berbagai aspek:

• Kemampuan militer kunci tetap bertahan meski ribuan target diserang.

• Jaringan pertahanan dan serangan asimetris (drone serta rudal) terus aktif.

• Resistensi internal rezim semakin solid, bukan runtuh.

• Pengaruh regional melalui proxy dan diplomasi tidak luntur, bahkan semakin adaptif.

Ini adalah bukti nyata inkonsistensi Trump. Dari waktu ke waktu, janji cepat selesai berubah menjadi perpanjangan jeda, ancaman keras diikuti mundur, dan klaim kemenangan yang tidak sesuai dengan kondisi aktual. Pola ini mirip dengan petualangan Amerika di Afghanistan dan Irak—prediksi “mudah dan singkat” yang berujung pada konflik panjang, mahal, dan penuh kerugian.

Bahaya yang Mengintai jika Trump Terus “Seenaknya”

Jika Trump terus melanjutkan pendekatan ini dengan seenaknya—berganti-ganti narasi, memberi jeda sesuka hati, dan memaksakan strategi adu domba tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang—maka ancaman serius akan menimpa negara-negara Arab Teluk dan #Israel.

Negara-negara Teluk (seperti #ArabSaudi, Uni Emirat Arab, #Qatar, dan lainnya) berisiko tinggi terkena dampak spillover konflik: gangguan jalur perdagangan, serangan balasan tidak langsung, dan ketidakstabilan ekonomi akibat fluktuasi harga minyak serta keamanan regional. Sementara Israel berpotensi mengalami kerusakan yang semakin besar, baik secara militer maupun ekonomi, karena ketegangan yang berkepanjangan justru memperkuat front perlawanan anti-Israel.

Di balik semua ini, seperti yang dikritik tajam oleh pengguna Twitter tersebut diatas, yang di tujukan kepada bangsanya sendiri;

“ Begitulah cara kekuatan besar memperlakukan segalanya sejak awal, sementara orang Arab berada dalam tidur nyenyak yang sangat dalam. Mereka memperlihatkan perbedaan di depan umum, tetapi di malam hari saling bertemu untuk membagi peran.”

Sandiwara perselisihan terbuka sering kali menyembunyikan koordinasi diam-diam antar aktor besar. Sementara itu, banyak pihak di dunia Muslim masih terlena, mudah dimanfaatkan dalam permainan pembagian pengaruh.

Pelajaran Berharga bagi Indonesia dan Umat Islam.

Yayasan Pendidikan Indonesia menekankan bahwa umat Islam dan bangsa Indonesia harus mengambil pelajaran mendalam dari dinamika ini. Strategi adu domba hanya efektif ketika ada kelemahan internal, perpecahan, dan kurangnya kesadaran strategis. Iran membuktikan bahwa ketangguhan, persatuan internal, dan adaptasi #asimetris bisa menetralkan tekanan superpower.

Bagi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar, saatnya memperkuat:

• Persatuan umat

• Kemandirian ekonomi dan teknologi

• Diplomasi cerdas yang berbasis kepentingan nasional

• Pendidikan geopolitik bagi generasi muda

Jangan sampai kita terjebak dalam polarisasi yang justru dimanfaatkan kekuatan luar untuk “membagi peran”.

Konflik AS-Iran saat ini bukan hanya soal nuklir atau hegemoni, melainkan cermin politik kekuasaan internasional yang penuh tipu daya dan inkonsistensi.

Mari jadikan momentum ini sebagai pengingat: hanya dengan kesadaran kolektif, ketangguhan, dan kemandirian, kita dapat menjaga kedaulatan dan kepentingan umat di tengah permainan global yang semakin rumit.

Penutup.

Apa yang kami ungkapkan tersebut diatas adalah fakta yang bisa di simak oleh pengguna media sosial di seluruh dunia, dan peperangan yang sangat di sesali oleh bangsa Amerika ini, telah mempertontonkan dengan gamblang kelemahan Amerika dan kepemimpinan #Trump, serta kekuatan dan ketangguhan #Iran, serta inkonsistensi para pemimpin Arab yang selama ini terbuai oleh kekayaan perit buminya.

Dulu Indonesia pernah menjadi sasaran politik divide et empera Belanda, dan tidak berhasil . Kini Trump – jika kita tidak bisa menyebut Amerika dalam hal ini – melakukan hal yang sama terhadap Iran, namun fakta menunjukkan bahwa Iran dalam tekanan berat tetap menunjukkan ketangguhannya.

Jika kondisi perundingan “لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَا” dan strategi Trump yang “ عقل ماكر” (akal yang licik dan penuh tipu daya)” , terus dilakukan, maka dalam waktu yang bisa di ukur, akan terjadi serangan balasan yang lebih dahsyat oleh Iran, terhadap kordinat Amerika Serikat di kawasan timur tengah, dan ini sangat berpengaruh terhadap kemapanan dunia. Israel dan negara negara teluk kembali menjadi sasaran balas dendam dan perburuan Iran.

Yayasan pendidikan Indonesia, sampai saat ini masih yakin bahwa Indonesia bisa berperan lebih dari apa yang bisa dilakukan oleh Pakistan, dalam hal mediasi perdamaian antara Amerika dan Iran. Mengapa?.

Karena Indonesia mempunyai pengalaman praktis sejak 70 tahun yang lalu, bahkan saat itu NII – Negara Islam Iran belum lahir -, juga pengalaman memfasilitasi penyelesaian konflik di beberapa negara. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, jalinan hubungan internasional yang di lakukan oleh Presiden #prabowosubianto sangatlah apik dan konsisten mengikuti Arahan konstitusi, tartil dan jauh dari emosional bergaya mandor gaplok ala Trump.

Untuk itu yayasan pendidikan Indonesia tetap mengusulkan agar Presiden meningkatkan apa yang kami sebut sebagai PRABOWO INITIATIVES, dengan sikap netralnya , Presiden bisa mengajak sera #Russia , #China dan #Oman bahkan #Pakistan, untuk memperluas tujuan perundingan , bukan hanya selesainya eskalasi, tetapi terciptanya kebersamaan negara – negara Islam sehingga menjadi kekuatan tangguh yang diperhitungkan.

You may also like...